Sekarang tumbuh lapisan baru di Indonesia. Terutama di era Reformasi ini. Lapisan baru dan generasi baru. Mereka ini jenis generasi yang belum pernah ada di masa sebelumnya.
Tetapi, jenis generasi baru ini, bukan generasi yang akan dapat menjadi tulang punggung dan pelopor bagi masa depan Indonesia.
Justeru generasi baru ini, cenderung akan membawa kehancuran di masa depan. Mereka ini tidak bakal mampu menghadapi berbagai kecenderungan baru, persaingan secara global, dan kondisi baru ini memerlukan jenis manusia yang kuat, baik secara moral (agama), keilmuan, intelektual, dan profesionalitas.
Generasi baru ini terdiri jenis manusia manja. Hidupnya hanya dapat diproeksi oleh sebuah sistem. Sistem korup. Hidup mereka hanya bersandar pada hasil rente, hasil sogok dan suap, dan menjadi "makelar umat".Mereka bergaya "borju" (borjuis).
Mereka sangat menikmati uang dari hasil sogok, suap, dan menjadi "makelar". Bukan hanya menjadi "makelar" proyek di departemen-departemen, tetapi yang lebih menyedihkan lagi, mereka menjadi "makelar" umat (si-mamat). Umat menjadi barang dagangan mereka (al umah bido'ah). Sekarang ini di Indonesia ada jenis dagangan (komoditdas) baru, di Indonesia yang paling laku, yaitu umat.
Menjelang pemilu atau pilkada, mereka menciptakan komoditas baru yang bernama umat. Mereka dengan berbagai cara dan methode menciptakan komoditas baru, yang nanti akan menjadi barang dagangan yang sangat laku.
Kalau mereka bisa mengumpulkan umat 7 juta, 10 juta, 15 juta, atau mungkin 20 juta, pasti nilai tawarnya akan sangat tinggi. Mereka bisa menenteng barang dagangan umat kepada siapa saja, terutama mereka yang lapar dengan kekuasaan. Sekarang banyak orang Indonesia, sangat lapar, dan bukan lapar makanan, tetapi lapar dengan kekuasaan.
Para pengumpul umat yang menjadi sangat piawi itu, hanya duduk manis di rumah atau dikantor masing-masing, atau duduk di lobi hotel, vila, apartemen, dan di pedopakan yang ada di lembah, dan mereka yang lapar dan haus kekuasaan itu, mereka mendatangi para "pedagang" umat, sambil menawarkan harta, jabatan, dan kekuasaan.
Tetapi, mereka para pedagang umat, masih tak puas dengan apa yang mereka dapatkan, mereka masih menerima rente, sogok, dan suap. Dengan begitu kondisi itu, lahirlah jenis generasi baru, generasi yang hidupnya hanya ditopang oleh sistem yang korup, hidupnya tergantung oleh rente, sogok dan suap. Tidak hidup diata tetesan keringat dan kerja keras.
Mengapa orang-orang cina menjadi kompetitor baru di area global, karena mereka dari lahir dididik dengan kerja keras. Mereka tidak pernah makan di tempat-tempat "mewah" sebelum mereka menjadi sukses. Mereka makan bubur. Tidak pernah berubah. Mereka lulusan universitas di Amerika Serikat. Mereka tetap bercucuran keringat. Bekerja keras.
Sebaliknya, di generasi baru yang pemakan rente, sogok, suap, dan si-mamat itu, sekarang menjadi "spoil system" (sistem yang dimanjakan). Mereka hanya menjadi "aksesoris", dan tak akan dapat menggantikan sistem bobrok, dan munafik. Karena, generasi pemakan rente, sogok,suap dan si-mamat, akhirnya hidup dengan pola dan gaya sendiri. Selamanya tak bisa memberikan harapan bagi masa depan.
Mungkin mereka hanya bisa memenuhi mall, plaza, hotel-hotel, apartemen, villa, dan tempat-tempat keramaian. Mereka tidak akan bisa memenuhi ruang-ruang kehidupan yang mulia, dan memberikan harapan baru, bagi masa depan. Masa depan umat manusia. Membuat perubahan.
Generasi baru yang hanya bisa menengadahkan tangannya kepada penguasa zalim, para pengusaha culas, dan para pemimpin-pemimpin palsu.
Indonesia tidak akan pernah melahirkan generasi Muhamad al-Fatih yang dapat menaklukan Konstatinopel dengan penuh kebanggaan. Muhamad al-Fatih yang memberikan kebanggaan kepada seluruh Muslim dan Mukmin sepanjang kehidupan.
Tetapi, generasi baru sejenis, seperti Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Andi Malaranggeng, Ahmad Fathonah, Luthfi Hasan Ishak, Djoko Susilo, dan lainnya. Mereka hanya menjadi sampah sejarah. Memalukan. Tak memberikan kebanggaan sedikitpun bagi Mukmin dan Muslim. Wallahu'alam.
Monday, 6 May 2013
Akibat Penyakit Asam Urat dalam Membentuk Batu Ginjal
Sudah jatuh, tertimpa tangga. Mungkin pepatah ini cocok bagi penderita asam urat yang sudah mencapai fase penyakit berikutnya, batu ginjal. Bagaimana tidak? Sendi terasa ngilu, otot pun terasa nyeri. Ditambah lagi, pegal di pinggang dan rasa sakit yang hebat pada saluran kencingnya. Lalu, di mana letak hubungan asam urat dengan batu ginjal?
Tingginya kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) ternyata bisa meningkatkan risiko perkembangan penyakit ginjal. Bahkan lebih dari itu, hiperurisemia memiliki hubungan dengan hipertensi dan kelainan kardiovaskular. Demikian publikasi dari hasil studi yang dikeluarkan Journal of The American Society Nephrology (JASN) pada akhir tahun 2008.
Sementara itu, dr. Rudolf dan rekan-rekannya dari Lembaga Kesehatan Masyarakat bagian Timur Vienna juga melihat hubungan antara peningkatan kadar asam urat dengan penyakit ginjal. Para peneliti tersebut membagi 21.475 orang yang dilibatkan dalam studinya ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok I (kadar asam urat normal), kelompok II (urisemia ringan), dan kelompok III (urisemia tinggi). Studi dilakukan dengan cara mengamati Nilai Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pasien selama 7 tahun. Hasilnya, terlihat bahwa pasien kelompok II memiliki risiko mengalami penyakit ginjal 1,26 kali lebih besar dari kelompok I. Sementara kelompok III memiliki risiko mengalami penyakit ginjal 1,63 kali kelompok I.
Mekanisme hubungan asam urat dan batu ginjal
Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin. Pada batas-batas tertentu asam urat dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk inti sel. Karena tubuh membutuhkan zat tersebut, maka tubuh memproduksi sendiri secara alami. Asam urat yang diproduksi sendiri oleh tubuh berasal dari pemecahan asam amino non esensial. Namun yang dibutuhkan hanya sedikit, sisanya dikeluarkan melalui air seni. Pada orang-orang yang mengalami gangguan metabolisme asam urat, terjadi pembentukan asam urat yang berlebihan dan gangguan pengeluarannya. Akibatnya, terjadi penumpukan asam urat di dalam darah. Penumpukan asam urat akan semakin besar jika makanan yang dikonsumsi mengandung purin.
Makanan yang mengandung purin dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Makanan yang mengandung purin tinggi di antaranya jeroan, melinjo, kerang, cumi, udang, kaldu, dan sarden. Kemudian kategori purin sedang seperti kacang-kacangan , taoge, oncom, tempe, tahu, tape, bir, durian, bayam, kangkung, dan daging-dagingan. Adapun makanan rendah purin seperti telur, susu, keju, buah-buahan, dan padi-padian.
Di bawah mikroskop asam urat dapat dilihat bahwa bentuk asam urat seperti kristal. Jadi, jika kadar asam urat di dalam darah tinggi maka kristal-kristal ini akan terkumpul di persendian. Hal ini disebabkan sendi merupakan bagian tubuh yang paling mudah dihinggapi kristal- kristal tersebut. Kristal- kristal ini akan menyebar di dalam rongga-rongga sendi yang umumnya menjadi penumpukan kristal asam urat seperti jari tangan serta jari kaki dan pergelangan kaki.
Saat meradang, sendi akan terasa ngilu, sakit, bengkak, dan berwarna kemerahan. Dampak jangka pendek dari asam urat adalah timbulnya kesakitan yang dapat mengganggu aktivitas. Sementara dampak jangka panjang menimbulkan batu ginjal yang jika dibiarkan dapat menyebabkan gagal ginjal.
Kurangnya pengeluaran asam urat melalui air seni bukan saja meningkatkan pembentukan batu asam urat di ginjal tetapi juga batu kalsium oksalat. Menurut seorang ahli yang bernama Emmerson, “Terbentuknya kedua jenis batu tersebut secara bersamaan dapat disebabkan karena asam urat merupakan inti untuk terbentuknya batu kalsium oksalat.”
Pembentukan batu asam urat ini juga dipengaruhi oleh bertambahnya keasaman air seni dan tingginya kadar asam urat di dalam air seni. Sementara di sisi lain, keberadaan zat sitrat dan glikosaminoglikan bisa menghambat pembentukan batu tersebut. Selain tingginya kadar asam urat dalam urin, faktor lain yang mempengaruhi pembentukan batu asam urat berupa volume air seni yang lebih sedikit.
Keberadaan batu asam urat menyebabkan tekanan di dalam ginjal dan pembuluh darah menjadi tinggi. Hal itu menyebabkan bertambahnya ketebalan dinding pembuluh darah dan berkurangnya aliran darah ke ginjal sehingga mengakibatkan kerusakan pada ginjal.
Mencegah lebih baik dari mengobati
Betul, jika sudah terkena penyakit, selain rasa sakit itu sendiri yang sangat tidak enak dirasakan, kita juga akan dipaksa mengeluarkan uang yang lebih banyak. Penyakit asam urat mudah sekali kambuh. Untuk mencegahnya, hindari makanan tinggi purin, hindari kelelahan,dan banyak minum air putih. Dengan banyak minum air putih, kita akan sering buang air seni. Artinya, banyak pula asam urat yang dikeluarkan dari tubuh. Dan yang jangan sampai dilupakan, jangan suka menahan air seni jika sudah kebelet pipis.
Pengendalian kadar asam urat juga bisa dilakukan lewat konsumsi herbal. Beberapa herba terbukti bisa mengatasi penyakit asam urat, misalnya sidaguri, sambiloto, salam, belimbing wuluh, seledri, dsb. Penyajiannya bisa lewat konsumsi langsung, baik sebagai lalapan atau bahan minuman. Bahkan untuk memudahkan konsumsi secara instan, beberapa produsen mengeluarkan produk herbal dalam bentuk kapsul, misalnya kapsul herbal Sidaguri.
Menyajikan herba dalam bentuk teh juga bisa menciptakan suasana yang lebih santai, rileks, dan tidak terkesan sakit. Seperti halnya anak kecil yang menolak obat, kita pun seringkali enggan untuk meminum obat. Namun, berbeda rasanya jika ditawari suguhan teh. Nah, teh seperti ini biasa disebut dengan Teh Herbal. Ternyata, nggak cuma nyantai, budaya ngeteh juga bisa menjaga kesehatan. S
Tingginya kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia) ternyata bisa meningkatkan risiko perkembangan penyakit ginjal. Bahkan lebih dari itu, hiperurisemia memiliki hubungan dengan hipertensi dan kelainan kardiovaskular. Demikian publikasi dari hasil studi yang dikeluarkan Journal of The American Society Nephrology (JASN) pada akhir tahun 2008.
Sementara itu, dr. Rudolf dan rekan-rekannya dari Lembaga Kesehatan Masyarakat bagian Timur Vienna juga melihat hubungan antara peningkatan kadar asam urat dengan penyakit ginjal. Para peneliti tersebut membagi 21.475 orang yang dilibatkan dalam studinya ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok I (kadar asam urat normal), kelompok II (urisemia ringan), dan kelompok III (urisemia tinggi). Studi dilakukan dengan cara mengamati Nilai Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pasien selama 7 tahun. Hasilnya, terlihat bahwa pasien kelompok II memiliki risiko mengalami penyakit ginjal 1,26 kali lebih besar dari kelompok I. Sementara kelompok III memiliki risiko mengalami penyakit ginjal 1,63 kali kelompok I.
Mekanisme hubungan asam urat dan batu ginjal
Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin. Pada batas-batas tertentu asam urat dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk inti sel. Karena tubuh membutuhkan zat tersebut, maka tubuh memproduksi sendiri secara alami. Asam urat yang diproduksi sendiri oleh tubuh berasal dari pemecahan asam amino non esensial. Namun yang dibutuhkan hanya sedikit, sisanya dikeluarkan melalui air seni. Pada orang-orang yang mengalami gangguan metabolisme asam urat, terjadi pembentukan asam urat yang berlebihan dan gangguan pengeluarannya. Akibatnya, terjadi penumpukan asam urat di dalam darah. Penumpukan asam urat akan semakin besar jika makanan yang dikonsumsi mengandung purin.
Makanan yang mengandung purin dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Makanan yang mengandung purin tinggi di antaranya jeroan, melinjo, kerang, cumi, udang, kaldu, dan sarden. Kemudian kategori purin sedang seperti kacang-kacangan , taoge, oncom, tempe, tahu, tape, bir, durian, bayam, kangkung, dan daging-dagingan. Adapun makanan rendah purin seperti telur, susu, keju, buah-buahan, dan padi-padian.
Di bawah mikroskop asam urat dapat dilihat bahwa bentuk asam urat seperti kristal. Jadi, jika kadar asam urat di dalam darah tinggi maka kristal-kristal ini akan terkumpul di persendian. Hal ini disebabkan sendi merupakan bagian tubuh yang paling mudah dihinggapi kristal- kristal tersebut. Kristal- kristal ini akan menyebar di dalam rongga-rongga sendi yang umumnya menjadi penumpukan kristal asam urat seperti jari tangan serta jari kaki dan pergelangan kaki.
Saat meradang, sendi akan terasa ngilu, sakit, bengkak, dan berwarna kemerahan. Dampak jangka pendek dari asam urat adalah timbulnya kesakitan yang dapat mengganggu aktivitas. Sementara dampak jangka panjang menimbulkan batu ginjal yang jika dibiarkan dapat menyebabkan gagal ginjal.
Kurangnya pengeluaran asam urat melalui air seni bukan saja meningkatkan pembentukan batu asam urat di ginjal tetapi juga batu kalsium oksalat. Menurut seorang ahli yang bernama Emmerson, “Terbentuknya kedua jenis batu tersebut secara bersamaan dapat disebabkan karena asam urat merupakan inti untuk terbentuknya batu kalsium oksalat.”
Pembentukan batu asam urat ini juga dipengaruhi oleh bertambahnya keasaman air seni dan tingginya kadar asam urat di dalam air seni. Sementara di sisi lain, keberadaan zat sitrat dan glikosaminoglikan bisa menghambat pembentukan batu tersebut. Selain tingginya kadar asam urat dalam urin, faktor lain yang mempengaruhi pembentukan batu asam urat berupa volume air seni yang lebih sedikit.
Keberadaan batu asam urat menyebabkan tekanan di dalam ginjal dan pembuluh darah menjadi tinggi. Hal itu menyebabkan bertambahnya ketebalan dinding pembuluh darah dan berkurangnya aliran darah ke ginjal sehingga mengakibatkan kerusakan pada ginjal.
Mencegah lebih baik dari mengobati
Betul, jika sudah terkena penyakit, selain rasa sakit itu sendiri yang sangat tidak enak dirasakan, kita juga akan dipaksa mengeluarkan uang yang lebih banyak. Penyakit asam urat mudah sekali kambuh. Untuk mencegahnya, hindari makanan tinggi purin, hindari kelelahan,dan banyak minum air putih. Dengan banyak minum air putih, kita akan sering buang air seni. Artinya, banyak pula asam urat yang dikeluarkan dari tubuh. Dan yang jangan sampai dilupakan, jangan suka menahan air seni jika sudah kebelet pipis.
Pengendalian kadar asam urat juga bisa dilakukan lewat konsumsi herbal. Beberapa herba terbukti bisa mengatasi penyakit asam urat, misalnya sidaguri, sambiloto, salam, belimbing wuluh, seledri, dsb. Penyajiannya bisa lewat konsumsi langsung, baik sebagai lalapan atau bahan minuman. Bahkan untuk memudahkan konsumsi secara instan, beberapa produsen mengeluarkan produk herbal dalam bentuk kapsul, misalnya kapsul herbal Sidaguri.
Menyajikan herba dalam bentuk teh juga bisa menciptakan suasana yang lebih santai, rileks, dan tidak terkesan sakit. Seperti halnya anak kecil yang menolak obat, kita pun seringkali enggan untuk meminum obat. Namun, berbeda rasanya jika ditawari suguhan teh. Nah, teh seperti ini biasa disebut dengan Teh Herbal. Ternyata, nggak cuma nyantai, budaya ngeteh juga bisa menjaga kesehatan. S
Ginjal dan Uji laboratorium fungsi ginjal
Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang yang terletak di sisi kiri dan kanan tulang belakang. Tepatnya, di bagian pinggang agak ke atas.
Dari ginjal keluar saluran, yang disebut ureter, menuju kandung kencing. Di kandung kencing, air kencing ditampung untuk sementara waktu. Jika sudah banyak, akan dikeluarkan ke luar tubuh lewat saluran yang disebut uretra.
Glomerulus
Fungsi ginjal adalah menyaring darah. Hasil saringannya berupa sampah metabolisme dan air. Hasil saringan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk air kencing. Dalam sehari, ginjal menyaring sekitar 200 liter darah. Hasilnya adalah sekitar 2 liter air kencing.
Unit penyaring ginjal disebut glomerulus. Unit ini berfungsi persis seperti saringan teh. Hanya molekul-molekul kecil saja yang bisa lewat, sedangkan darah, protein, dan molekul besar lainnya tetap berada di pembuluh darah.
Molekul kecil yang lolos dari saringan glomerulus terdiri dari sampah metabolisme, air, dan bahan-bahan yang masih dibutuhkan oleh tubuh. Nah, unit yang berada di hilir glomerulus yang disebut tubulus akan memilah bahan tersebut. Bahan yang masih dibutuhkan seperti air, garam, elektrolit, diserap kembali. Sedangkan produk sampah dibiarkan keluar menjadi air kencing.
Mampet atau bolong
Sebagian besar penyakit ginjal mengenai unit penyaring, sehingga proses penyaringan menjadi terganggu. Ada dua macam gangguan, pertama saringan mampet, atau saringan bolong. Jika saringan mampet, maka sampah metabolisme akan tertahan di dalam tubuh, sedangkan jika saringan bolong, maka protein, sel darah, dan molekul besar lainnya akan lolos ke air kencing.
Banyak hal yang bisa menyebabkan kerusakan unit penyaring, antara lain penyakit ginjal diabetes, keracunan obat atau bahan tertentu, cedera ginjal, infeksi ginjal, batu ginjal, kanker, dan lain sebagainya.
GFR
Untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi normal perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Pemeriksaan protein urin
Normalnya, air kencing bebas dari protein. Jika ditemukan protein di dalam air kencing, disebut proteinuria, menandakan unit penyaring ginjal bolong.
2. Pemeriksaan kreatinin darah
Kreatinin dalah substansi hasil aktifitas otot. Jika ginjal normal, kreatinin akan dikeluarkan bersama air kencing. Jika unit penyaring ginjal mampet, maka nilai kreatinin dalam darah meningkat. Nilai normal kreatinin adalah 0,6 – 1,2 mg/dL. Jika nilainya di atas itu, bermakna ginjal mengalami gangguan.
3. Pemeriksaan ureum darah
Ureum adalah hasil metabolisme protein tubuh. Seperti halnya kreatinin, ureum juga dikeluarkan bersama air kencing. Jika ginjal mampet, maka nilainya dalam darah akan meningkat. Nilai normal ureum darah adalah 7 – 20 mg/dL. Jika ureum di atas 20 mg/dL, berarti fungsi ginjal mengalami gangguan.
4. Uji laju filtrasi glomerulus (glomerulus filtration rate, GFR)
Uji GFR merupakan uji fungsi ginjal yang paling akurat. Pada uji ini, disuntikkan bahan tertentu ke dalam pembuluh darah, lalu dipantau laju pengeluarannya di air kencing. Nilai normalnya adalah 90 ml/menit/1,73m2 luas permukaan tubuh. Jika kurang dari nilai tersebut, berarti fungsi ginjal terganggu.
Dari ginjal keluar saluran, yang disebut ureter, menuju kandung kencing. Di kandung kencing, air kencing ditampung untuk sementara waktu. Jika sudah banyak, akan dikeluarkan ke luar tubuh lewat saluran yang disebut uretra.
Glomerulus
Fungsi ginjal adalah menyaring darah. Hasil saringannya berupa sampah metabolisme dan air. Hasil saringan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk air kencing. Dalam sehari, ginjal menyaring sekitar 200 liter darah. Hasilnya adalah sekitar 2 liter air kencing.
Unit penyaring ginjal disebut glomerulus. Unit ini berfungsi persis seperti saringan teh. Hanya molekul-molekul kecil saja yang bisa lewat, sedangkan darah, protein, dan molekul besar lainnya tetap berada di pembuluh darah.
Molekul kecil yang lolos dari saringan glomerulus terdiri dari sampah metabolisme, air, dan bahan-bahan yang masih dibutuhkan oleh tubuh. Nah, unit yang berada di hilir glomerulus yang disebut tubulus akan memilah bahan tersebut. Bahan yang masih dibutuhkan seperti air, garam, elektrolit, diserap kembali. Sedangkan produk sampah dibiarkan keluar menjadi air kencing.
Mampet atau bolong
Sebagian besar penyakit ginjal mengenai unit penyaring, sehingga proses penyaringan menjadi terganggu. Ada dua macam gangguan, pertama saringan mampet, atau saringan bolong. Jika saringan mampet, maka sampah metabolisme akan tertahan di dalam tubuh, sedangkan jika saringan bolong, maka protein, sel darah, dan molekul besar lainnya akan lolos ke air kencing.
Banyak hal yang bisa menyebabkan kerusakan unit penyaring, antara lain penyakit ginjal diabetes, keracunan obat atau bahan tertentu, cedera ginjal, infeksi ginjal, batu ginjal, kanker, dan lain sebagainya.
GFR
Untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi normal perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan tersebut meliputi:
1. Pemeriksaan protein urin
Normalnya, air kencing bebas dari protein. Jika ditemukan protein di dalam air kencing, disebut proteinuria, menandakan unit penyaring ginjal bolong.
2. Pemeriksaan kreatinin darah
Kreatinin dalah substansi hasil aktifitas otot. Jika ginjal normal, kreatinin akan dikeluarkan bersama air kencing. Jika unit penyaring ginjal mampet, maka nilai kreatinin dalam darah meningkat. Nilai normal kreatinin adalah 0,6 – 1,2 mg/dL. Jika nilainya di atas itu, bermakna ginjal mengalami gangguan.
3. Pemeriksaan ureum darah
Ureum adalah hasil metabolisme protein tubuh. Seperti halnya kreatinin, ureum juga dikeluarkan bersama air kencing. Jika ginjal mampet, maka nilainya dalam darah akan meningkat. Nilai normal ureum darah adalah 7 – 20 mg/dL. Jika ureum di atas 20 mg/dL, berarti fungsi ginjal mengalami gangguan.
4. Uji laju filtrasi glomerulus (glomerulus filtration rate, GFR)
Uji GFR merupakan uji fungsi ginjal yang paling akurat. Pada uji ini, disuntikkan bahan tertentu ke dalam pembuluh darah, lalu dipantau laju pengeluarannya di air kencing. Nilai normalnya adalah 90 ml/menit/1,73m2 luas permukaan tubuh. Jika kurang dari nilai tersebut, berarti fungsi ginjal terganggu.
Thursday, 2 May 2013
Antara Dahulu dan Sekarang, Di mana Dirimu Berada?
Dahulu mereka merupakan sebuah komunitas yang dianggap shalih. Sangat puritan. Memiliki karakter yang sangat khas, dan berbeda dengan kalayak lainnya. Dengan mudah menemukannya ditengah-tengah kehidupan yang ramai.
Seiring berjalannya waktu semuanya menjadi berubah. Karakter dasar mereka menjadi berubah. Seperti tak nampak lagi. Seperti tertelan oleh alam. Seperti hilang bersama angin kehidupan. Tanpa bekas. Kemudian, menjadi sangat aneh. Kemuliaan, keshalihan, puritan, dan bersahaja, semuanya menjadi hilang.
Memang, tidak mudah tetap "beriltizam bil Islam" (komitmen terhadap Islam), diakhir zaman, diumpamakan seperti memegang bara api. Betapa beratnya hidup di akhir zaman, bisa tetap istiqomah dengan Islam, sebagai dinul haq, dan tetap menjadikan pedoman hidup.
Dahulu. Masih melihat mereka nampak selalu memegang mush'af Qur'an. Di kenderaan, seperti di bus, kereta, angkot, kampus, kantor, dan tempat lainnya. Sekarang sudah sangat langka. Mush'af Qur'an di gantikan blackberry, samsung, dan nokia, sebagai "dzikir" baru mereka disetiap saat.
Dahulu. Usai shalat shubuh, tidak bergegas pergi, tetapi masih membaca Qur'an, membaca ma'syurat, wirid yang diajarkan oleh Rasullullah Shallahu alaihi wassalam.
Sekarang, usai shalat shubuh, tak lagi terdengar lantunan Qur'an atau ma'syurat. Begitu usai shalat shubuh langsung bergegas, memegang blackberry, samgsung, nokia, atau IPad, mengurai berbagai pekerjaan, dan berkomunikasi dengan relasi. Itu lebih penting dibandingkan membaca al-Qur'an atau ma'syurat.
Mereka yang dahulu shalih, puritan, dan bersahaja, sudah berubah. Menjadi pemimpin partai, gerakan, dan organisasi yang orientasinya pada harta, kekayaan, kemewahan, dan dimulai dengan merebut kekuasaan. Bukan lagi menegakkan kalimatullah atau syariah-Nya. Itu sudah tidak penting lagi.
Sekarang, mereka membalutnya dengan berbagai diksi (kata), yang diuntai dengan kalimat yang sangat indah,dan diungkapkan dengan penuh retorika, sampai mendapat julukan oleh para pengikutnya sebagai "soekarno muda" atau "pemimpin masa depan", yang sejatinya sang "tokoh" hanyalah tukang merangkai kata-kata, yang tanpa isi serta makna apapun.
Dahulu. Acara pernikahan dipisahkan antara pengantin perempuan dengan laki. Para undangan pun dipisahkan antara laki dengan perempuan. Tak disatukan. Karena dilarang. Benar-benar dijaga. Jangan sampai terjadi "ihtilat" (campur), dan dapat menimbulkan ekses negatif.
Dahulu. Laki-laki tak berani menatap wajah perempuan. Laki-laki selalu menundukan pandangannya. Bahkan, para perempuan (akhwat), jika berbicara dengan laki-laki tak berani menatap wajahnya.
Sebagian dikalangan kampus, dahulu, para aktivis perempuan, kalau duduk membelakangi para laki-laki (ikhwan)nya, sehingga seakan menjadi aneh. Tetapi, sekarang tidak lagi seperti itu, dan sudah banyak yang terkena penyakit virus "ungu" (berpacaran).
Dahulu. Para pekerja di kantor dilarang menerima uang "subhat", dan banyak para pegawai yang mentaatinya, dan tidak mengambil barang subhat itu, dan dibiarkan di laci mereka. Kalau pun diambil paling-paling hanya digunakan untuk sumbangan membangun jalan, wc, dan tempat yang tidak berkaitan dengan kehidupan langsung mereka.
Sekarang, tidak ada lagi shubhat, halal,dan haram.Semua sudah boleh, dan dihalalkan. Harampun sekarang menjadi halal. Dengan berbagai dalih. Inilah perubahan. Perubahan di era baru dalam kehidupan.
Dahulu. Mereka sangat suka masjid. Acara-acara yang mereka selenggarakan lebih Islami. Tak terlepas motivasi adanya kebersihan, dan semua diorientasikan kepada kedekatan dengan Allah Rabbul Alamin. Tak mau berbuat dosa.
Tak mengenal namanya hotel. Apalagi hotel mewah. mall, plaza, cafe, dan tempat-tempat yang dapat membuat jatuh ke tempat maksiat.
Sekarang setiap kegiatan acara selalu lekat dengan hotel mewah. Seakan kurang afdhal, kalau tidak ditempat yang sangat "mewah", dan itu sudah menjadi bagian hidup mereka.
Lobbi hotel, mall, plaza, dan cafe, tak pernah ketinggalan. Karena, tempat-tempat itu, sangat kosmopolitan. Kalau ingin dinilai sebagi komunitas atau gerakan modern, maka harus lebih dekat dengan tempat-tempat modern.
Dahulu. Mereka selalu lekat dengan seni dan budaya yang Islami, dan penuh dengan nuansa Islami. Tak suka dengan berbagai budaya dan seni, yang penuh dengan gairah, yang menyebabkan lahirnya nafsu. Apalagi, dengan kegiatan budaya seni, yang lebih mempertontonkan aurat dan syahwat.
Sekarang budaya seni Islami yang pernah mereka tumbuhkan dan menjadi salah satu "brand image" gerakan mereka, kemudian luruh dan hilang, bersamaan dengan orientasi mereka dengan budaya seni yang lebih mengedepankan syahwat dan nafsu.
Makanya, tak jarang mereka menyelenggarakan acara-acara yang selalu dibumbui dengan budaya dan seni yang lebih mengundang syahwat. Bukan membuat mereka menjadi lebih dekat dengan budaya Islam.
Seperti menampilkan musik "dangdut" pada setiap acara yang mereka selenggarakan. Maka, tak aneh mereka mempunyai hubungan dekat dengan artis-artis "suur". Karena kalkusinya hanya ingin mendapatkan suara yang banyak.
Semua yang dahulu dikenal shalih, puritan, dan bersahaja, berubah. Secara total. Dalam segala aspek kehidupan mereka. Membangun rumah bermilyar-milyar. Apartemen-apartemen eksklusif.Bahkan, hidup di bukit-bukit diatas villa.
Tetapi, kalau bertemu pengikutnya berlagak miskin, dan suka kepada kemiskinan, merakyat dan menampakkan kehidupan yang bersahaja. Sejatinya hanya sekadar mengelebahui para pengikutnya dan rakyat.
Dahulu. Mereka suka mengajarkan tentang kebenaran, kejujuran, amanah, dan pengorbanan. Mereka selalu menampakan sikap-sikap mulia, tidak menunjukan pamrih, dan motive yang ambisius terhadap kehidupan duniawi. Sungguh segala dilakukan dengan ikhlas.
Tetapi, sekarang mereka menjadi kumpulan orang-orang yang tamak, dan rakus, dan tak mengindahkan aturan moral. Segalanya menjadi dibolehkan, dan tidak ada lagi yang dianggap tabu.
Makanya,di akhir zaman ini, kehidupan penuh dengan kepalsuan, kepura-puraan, dan tidak ada yang sungguh-sungguh. Hanya terkadang mereka pandai menyuguhkan sebuah adegan yang sangat baik, baik untuk membodohi, menipu, dan mendustai para pengikutnya dan rakyat. Dengan gaya berpura-pura. Semuanya itu hanya berpura-pura.
Pura-pura cinta kepada rakyat. Pura-pura berkerja untuk rakyat. Berpura-pura harmoni dengan kehidupan rakyat miskin. Semua itu hanya satu tujuannya, yaitu menipu rakyat. Tidak ada yang lain. Hanya menipu rakyat. Menjelang pemilu atau pilkada.
Berpura-pura menjadi orang yang shalih, dan menjadi orang yang paling cinta kepada rakyat, menjadi orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk rakyat, dan berpura-pura bisa hidup harmoni dengan rakyat. Usai pemilu semua akan berubah. Tak berbekas. Karena motivasinya hanya ingin menipu rakyat.
Diatas segalanya yang paling penting, tentu sang "tokoh" ini memiliki kemampuan menyihir para pengikutnya, dan para pengikutnya menjadi kagum, fanatik, dan taklid. Para pengikutnya berubah menjadi seperti "benda" mati. Tanpa akal.
Pengikutnya akan selalu memanjakan sang "tokoh", dan mau bertindak apa saja demi sang "tokoh" yang menjadi idolanya. Mereka menjadi mesin yang efektif di setiap waktu, dan akan selalu membelanya dengan seluruh yang mereka miliki. Wallahu'alam.
Seiring berjalannya waktu semuanya menjadi berubah. Karakter dasar mereka menjadi berubah. Seperti tak nampak lagi. Seperti tertelan oleh alam. Seperti hilang bersama angin kehidupan. Tanpa bekas. Kemudian, menjadi sangat aneh. Kemuliaan, keshalihan, puritan, dan bersahaja, semuanya menjadi hilang.
Memang, tidak mudah tetap "beriltizam bil Islam" (komitmen terhadap Islam), diakhir zaman, diumpamakan seperti memegang bara api. Betapa beratnya hidup di akhir zaman, bisa tetap istiqomah dengan Islam, sebagai dinul haq, dan tetap menjadikan pedoman hidup.
Dahulu. Masih melihat mereka nampak selalu memegang mush'af Qur'an. Di kenderaan, seperti di bus, kereta, angkot, kampus, kantor, dan tempat lainnya. Sekarang sudah sangat langka. Mush'af Qur'an di gantikan blackberry, samsung, dan nokia, sebagai "dzikir" baru mereka disetiap saat.
Dahulu. Usai shalat shubuh, tidak bergegas pergi, tetapi masih membaca Qur'an, membaca ma'syurat, wirid yang diajarkan oleh Rasullullah Shallahu alaihi wassalam.
Sekarang, usai shalat shubuh, tak lagi terdengar lantunan Qur'an atau ma'syurat. Begitu usai shalat shubuh langsung bergegas, memegang blackberry, samgsung, nokia, atau IPad, mengurai berbagai pekerjaan, dan berkomunikasi dengan relasi. Itu lebih penting dibandingkan membaca al-Qur'an atau ma'syurat.
Mereka yang dahulu shalih, puritan, dan bersahaja, sudah berubah. Menjadi pemimpin partai, gerakan, dan organisasi yang orientasinya pada harta, kekayaan, kemewahan, dan dimulai dengan merebut kekuasaan. Bukan lagi menegakkan kalimatullah atau syariah-Nya. Itu sudah tidak penting lagi.
Sekarang, mereka membalutnya dengan berbagai diksi (kata), yang diuntai dengan kalimat yang sangat indah,dan diungkapkan dengan penuh retorika, sampai mendapat julukan oleh para pengikutnya sebagai "soekarno muda" atau "pemimpin masa depan", yang sejatinya sang "tokoh" hanyalah tukang merangkai kata-kata, yang tanpa isi serta makna apapun.
Dahulu. Acara pernikahan dipisahkan antara pengantin perempuan dengan laki. Para undangan pun dipisahkan antara laki dengan perempuan. Tak disatukan. Karena dilarang. Benar-benar dijaga. Jangan sampai terjadi "ihtilat" (campur), dan dapat menimbulkan ekses negatif.
Dahulu. Laki-laki tak berani menatap wajah perempuan. Laki-laki selalu menundukan pandangannya. Bahkan, para perempuan (akhwat), jika berbicara dengan laki-laki tak berani menatap wajahnya.
Sebagian dikalangan kampus, dahulu, para aktivis perempuan, kalau duduk membelakangi para laki-laki (ikhwan)nya, sehingga seakan menjadi aneh. Tetapi, sekarang tidak lagi seperti itu, dan sudah banyak yang terkena penyakit virus "ungu" (berpacaran).
Dahulu. Para pekerja di kantor dilarang menerima uang "subhat", dan banyak para pegawai yang mentaatinya, dan tidak mengambil barang subhat itu, dan dibiarkan di laci mereka. Kalau pun diambil paling-paling hanya digunakan untuk sumbangan membangun jalan, wc, dan tempat yang tidak berkaitan dengan kehidupan langsung mereka.
Sekarang, tidak ada lagi shubhat, halal,dan haram.Semua sudah boleh, dan dihalalkan. Harampun sekarang menjadi halal. Dengan berbagai dalih. Inilah perubahan. Perubahan di era baru dalam kehidupan.
Dahulu. Mereka sangat suka masjid. Acara-acara yang mereka selenggarakan lebih Islami. Tak terlepas motivasi adanya kebersihan, dan semua diorientasikan kepada kedekatan dengan Allah Rabbul Alamin. Tak mau berbuat dosa.
Tak mengenal namanya hotel. Apalagi hotel mewah. mall, plaza, cafe, dan tempat-tempat yang dapat membuat jatuh ke tempat maksiat.
Sekarang setiap kegiatan acara selalu lekat dengan hotel mewah. Seakan kurang afdhal, kalau tidak ditempat yang sangat "mewah", dan itu sudah menjadi bagian hidup mereka.
Lobbi hotel, mall, plaza, dan cafe, tak pernah ketinggalan. Karena, tempat-tempat itu, sangat kosmopolitan. Kalau ingin dinilai sebagi komunitas atau gerakan modern, maka harus lebih dekat dengan tempat-tempat modern.
Dahulu. Mereka selalu lekat dengan seni dan budaya yang Islami, dan penuh dengan nuansa Islami. Tak suka dengan berbagai budaya dan seni, yang penuh dengan gairah, yang menyebabkan lahirnya nafsu. Apalagi, dengan kegiatan budaya seni, yang lebih mempertontonkan aurat dan syahwat.
Sekarang budaya seni Islami yang pernah mereka tumbuhkan dan menjadi salah satu "brand image" gerakan mereka, kemudian luruh dan hilang, bersamaan dengan orientasi mereka dengan budaya seni yang lebih mengedepankan syahwat dan nafsu.
Makanya, tak jarang mereka menyelenggarakan acara-acara yang selalu dibumbui dengan budaya dan seni yang lebih mengundang syahwat. Bukan membuat mereka menjadi lebih dekat dengan budaya Islam.
Seperti menampilkan musik "dangdut" pada setiap acara yang mereka selenggarakan. Maka, tak aneh mereka mempunyai hubungan dekat dengan artis-artis "suur". Karena kalkusinya hanya ingin mendapatkan suara yang banyak.
Semua yang dahulu dikenal shalih, puritan, dan bersahaja, berubah. Secara total. Dalam segala aspek kehidupan mereka. Membangun rumah bermilyar-milyar. Apartemen-apartemen eksklusif.Bahkan, hidup di bukit-bukit diatas villa.
Tetapi, kalau bertemu pengikutnya berlagak miskin, dan suka kepada kemiskinan, merakyat dan menampakkan kehidupan yang bersahaja. Sejatinya hanya sekadar mengelebahui para pengikutnya dan rakyat.
Dahulu. Mereka suka mengajarkan tentang kebenaran, kejujuran, amanah, dan pengorbanan. Mereka selalu menampakan sikap-sikap mulia, tidak menunjukan pamrih, dan motive yang ambisius terhadap kehidupan duniawi. Sungguh segala dilakukan dengan ikhlas.
Tetapi, sekarang mereka menjadi kumpulan orang-orang yang tamak, dan rakus, dan tak mengindahkan aturan moral. Segalanya menjadi dibolehkan, dan tidak ada lagi yang dianggap tabu.
Makanya,di akhir zaman ini, kehidupan penuh dengan kepalsuan, kepura-puraan, dan tidak ada yang sungguh-sungguh. Hanya terkadang mereka pandai menyuguhkan sebuah adegan yang sangat baik, baik untuk membodohi, menipu, dan mendustai para pengikutnya dan rakyat. Dengan gaya berpura-pura. Semuanya itu hanya berpura-pura.
Pura-pura cinta kepada rakyat. Pura-pura berkerja untuk rakyat. Berpura-pura harmoni dengan kehidupan rakyat miskin. Semua itu hanya satu tujuannya, yaitu menipu rakyat. Tidak ada yang lain. Hanya menipu rakyat. Menjelang pemilu atau pilkada.
Berpura-pura menjadi orang yang shalih, dan menjadi orang yang paling cinta kepada rakyat, menjadi orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk rakyat, dan berpura-pura bisa hidup harmoni dengan rakyat. Usai pemilu semua akan berubah. Tak berbekas. Karena motivasinya hanya ingin menipu rakyat.
Diatas segalanya yang paling penting, tentu sang "tokoh" ini memiliki kemampuan menyihir para pengikutnya, dan para pengikutnya menjadi kagum, fanatik, dan taklid. Para pengikutnya berubah menjadi seperti "benda" mati. Tanpa akal.
Pengikutnya akan selalu memanjakan sang "tokoh", dan mau bertindak apa saja demi sang "tokoh" yang menjadi idolanya. Mereka menjadi mesin yang efektif di setiap waktu, dan akan selalu membelanya dengan seluruh yang mereka miliki. Wallahu'alam.
Sunday, 28 April 2013
Keutamaan meninggal pada hari Jum'at atau malam Jum'at
Para ulama menyebutkan bahwa salah satu tanda seorang muslim mati dalam keadaan husnul khatimah adalah ia mati pada malam Jum’at atau hari Jum’at.
Pendapat tersebut didasarkan kepada beberapa hadits berikut ini.
[1]. Hadits dari jalur Hisyam bin Sa’ad dari Sa’id bin Abi Hilal dari Rabi’ah bin Saif dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma berikut ini.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ “
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074)
Setelah meriwayatkan hadits tersebut, imam at-Tirmidzi melemahkannya dengan berkata: “Hadits ini gharib. Sanad hadits ini tidak bersambung, karena perawi Rabi’ah bin Saif sebenarnya hanya meriwayatkan dari Abu Abdurrahman al-Hubuli dari Abdullah bin Amru. Kami tidak mengetahui Rabi’ah bin Saif mendengar langsung dari Abdullah bin Amru.” (Sunan At-Tirmidzi, 3/378, hadits no. 1074)
Imam al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib juga melemahkan hadits ini.
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Sanadnya lemah, karena sanadnya terputus.” Beliau lalu menyebutkan sanadnya dan penjelasan imam At-Tirmidzi di atas. (Musnad Imam Ahmad, 6/153, hadits no. 6582 dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanadnya lemah, karena perawi Rabi’ah bin Saif tidak mendengar dari Abdullah bin Amru. Dia (Rabi’ah bin Saif) dan perawi Hisyam bin Sa’ad adalah dua perawi yang lemah.” (Musnad Imam Ahmad, 11/147, hadits no. 6582, dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
[2]. Hadits di atas diriwayatkan dari jalur sanad lainnya berikut ini.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami perawi Suraij, telah menceritakan kepada kami (perawi Suraij) perawi Baqiyah, dari Mu’awiyah bin Sa’id dari Abu Qabil dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
” مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ “
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka ia akan dilindungi dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6646)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Sanadnya lemah, karena perawi Baqiyah bin Muslim adalah seorang mudallis (perawi yang memanipulasi sanad) dan dalam sanad ini ia tidak menegaskan mendengar secara langsung (dari Mu’awiyah).” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 6/204)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: “Sanadnya lemah. Perawi Baqiyah (yaitu Baqiyah bin Muslim al-Himshi) mentadlis dari para perawi yang lemah dan melakukan tadlis taswiyyah, bahkan memperbolehkannya. Perawi Mu’awiyah bin Said bin Syuraij at-Tujaibi al-Fahmi al-Mishri, hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban saja.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/226-227)
Adapun perawi Abu Qabil (namanya adalah Huyai bin Hani al-Mu’afiri) dinyatakan tsiqah oleh lebih dari seorang ulama, imam Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitabnya Ats-Tsiqat dan berkata: Dia juga seorang perawi yang keliru-keliru. Imam As-Saji menyebutkannya dalam kitabnya Adh-Dhu’afa’ (Para perawi yang lemah). Dan diriwayatkan dari Imam Ibnu Ma’in bahwa ia melemahkannya.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/225)
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga melemahkan perawi Abu Qabil dalam kitabnya Ta’jilul Manfa’ah.
[3]. Hadits riwayat imam Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi adh-Dhu’afa’.
Imam Abu Ya’la berkata: Menceritakan kepada kami perawi Abu Ma’mar Ismail bin Ibrahim, menceritakan kepada kami perawi Abdullah bin Ja’far dari Waqid bin Salamah dari Yazid ar-Raqasyi, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
«مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ»
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at maka ia akan dilindungi dari siksa kubur.” (HR. Abu Ya’la no. 4113 dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, 7/2554)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Makna hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Anas bin Malik dlam Musnad Abu Ya’la. Namun sanadnya lemah juga, sebagaimana disebutkan oleh (Al-hafizh Nuruddin al-Haitsami) dalam Majma’uz Zawaid dan (Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani) dalam Fathul Bari.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Ahmad Syakir, 6/204)
Syaikh Syua’aib al-Arnauth berkata: “Di dalam sanadnya ada perawi Waqid bin Salamah dan Yazin bin Abban ar-Raqasyi. Keduanya adalah perawi yang lemah.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/149)
Syaikh Husain Salim Asad dalam tahqiqnya atas Musnad Abu Ya’la juga melemahkan sanad hadits ini.
[4]. Hadits riwayat imam Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’.
Dari Umar bin Musa bin Wajih dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
«مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ»
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at niscaya ia akan dijauhkan dari siksa kubur dan pada hari kiamat ia akan datang dengan memiliki tanda orang mati syahid.” (HR. Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, 3/155)
Setelah meriwayatkan hadits ini, imam Abu Nu’aim al-Asbahani mengatakan: “Hadits ini gharib dari hadits Jabir dan Muhammad bin Munkadir. Hanya diriwayatkan oleh Umar bin Musa, dan ia adalah seorang penduduk Madinah, ia adalah perawi yang lemah.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, 3/155)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth menulis tentang perawi Umar bin Musa bin Wajih: “Imam Abu Hatim berkata: “Ia adalah pemalsu hadits.” Imam An-Nasai dan Ad-Daraquthni berkata: “Ia matruk (tertuduh memalsu hadits).” Imam Ibnu ‘Adi berkata: “Ia termasuk perawi yang memalsukan hadits, matan maupun sanadnya.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arnauth, 11/149)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Hadits Jabir diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 3/155-156, dan dalam sanadnya ada kelemahan.”(Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 6/204)
Kedudukan hadits:
Inilah Abdullah bin Amru bin Ash tentang keutamaan meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at. Hadits tersebut secara sanad lemah, dan terdapat dua hadits lainnya yang menunjukkan keutamaan yang sama, yaitu hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Secara sanad, kedua hadits tersebut juga lemah, bahkan lebih lemah dari hadits Abdullah bin Amru bin Ash.
Kesimpulan hadits:
1. Hadits tentang keutamaan meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at diriwayatkan dari jalur sahabat Abdullah bin Amru bin Ash, Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhum.
2. Imam Abul ‘Ala’ Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri dalam bukunya Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi menyatakan hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah bisa menguatkan kelemahan hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Sehingga dari keseluruhan jalur sanadnya, hadits tersebut naik derajatnya menjadi hadits hasan atau hadits shahih, yang bisa dipegangi sebagai hujjah untuk menyatakan adanya keutamaan khusus bagi orang yang meninggal padda hari Jum’at atau malam Jum’at.
Pendapat ini diikuti oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam bukunya, Ahkamul Janaiz.
3. Sebagian besar ulama hadits menganggap hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah tidak bisa menguatkan kelemahan hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Sebab kelemahan sanad kedua hadits tersebut justru lebih parah daripada kelemahan sanad hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Dengan demikian, ketiga hadits tersebut tetap berderajat dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah untuk menyatakan ada keutamaan khusus bagi bagi orang yang meninggal padda hari Jum’at atau malam Jum’at. Pendapat ini, wallahu a’lam, adalah pendapat yang lebih kuat dan lebih dekat kepada kebenaran.
4. Andaikata kita mengikuti pendapat ulama yang menyatakan hadits tersebut hasan atau shahih sekalipun, maka bukan berarti setiap muslim dan muslimah yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at telah meraih husnul khatimah. Status husnul khatimah lebih kuat berkaitan dengan amal perbuatan orang yang meninggal, daripada dengan tempat dan waktu orang tersebut meninggal.
Misalnya:
a. Seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan kemaksiatan (berzina, mabuk, merampok, meninggalkan shalat, meninggalkan shaum Ramadhan dan lain-lain), maka bisa diyakini ia mati dalam keadaan suul khatimah, meskipun ia meninggal pada malam Jum’at atau hari Jum’at.
b. Seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan ketaatan (melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, membaca Al-Qur’an, menengok orang sakit, memuliakan tamu, berperang di jalan Allah, dan lain-lain), maka bisa diyakini ia mati dalam keadaan husnul khatimah, meskipun ia meninggal pada selain hari Jum’at atau selain malam Jum’at.
c. Jika seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan ketaatan pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka bisa diyakini bahwa ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
5. Kematian adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Kematian datang secara tiba-tiba tanpa bisa disangka waktu dan tempatnya. Oleh karenanya sudah seharusnya kita senantiasa mempersiapkan bekal amal shalih sebaik-baiknya untuk menghadap Allah Ta’ala, sebelum kematian datang menjemput kita. Wallahu a’lam bish-shawab.
Pendapat tersebut didasarkan kepada beberapa hadits berikut ini.
[1]. Hadits dari jalur Hisyam bin Sa’ad dari Sa’id bin Abi Hilal dari Rabi’ah bin Saif dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma berikut ini.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ “
Dari Abdullah bin Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6582 dan At-Tirmidzi no. 1074)
Setelah meriwayatkan hadits tersebut, imam at-Tirmidzi melemahkannya dengan berkata: “Hadits ini gharib. Sanad hadits ini tidak bersambung, karena perawi Rabi’ah bin Saif sebenarnya hanya meriwayatkan dari Abu Abdurrahman al-Hubuli dari Abdullah bin Amru. Kami tidak mengetahui Rabi’ah bin Saif mendengar langsung dari Abdullah bin Amru.” (Sunan At-Tirmidzi, 3/378, hadits no. 1074)
Imam al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib juga melemahkan hadits ini.
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Sanadnya lemah, karena sanadnya terputus.” Beliau lalu menyebutkan sanadnya dan penjelasan imam At-Tirmidzi di atas. (Musnad Imam Ahmad, 6/153, hadits no. 6582 dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanadnya lemah, karena perawi Rabi’ah bin Saif tidak mendengar dari Abdullah bin Amru. Dia (Rabi’ah bin Saif) dan perawi Hisyam bin Sa’ad adalah dua perawi yang lemah.” (Musnad Imam Ahmad, 11/147, hadits no. 6582, dengan tahqiq Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
[2]. Hadits di atas diriwayatkan dari jalur sanad lainnya berikut ini.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami perawi Suraij, telah menceritakan kepada kami (perawi Suraij) perawi Baqiyah, dari Mu’awiyah bin Sa’id dari Abu Qabil dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
” مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ “
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka ia akan dilindungi dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad no. 6646)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Sanadnya lemah, karena perawi Baqiyah bin Muslim adalah seorang mudallis (perawi yang memanipulasi sanad) dan dalam sanad ini ia tidak menegaskan mendengar secara langsung (dari Mu’awiyah).” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 6/204)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata: “Sanadnya lemah. Perawi Baqiyah (yaitu Baqiyah bin Muslim al-Himshi) mentadlis dari para perawi yang lemah dan melakukan tadlis taswiyyah, bahkan memperbolehkannya. Perawi Mu’awiyah bin Said bin Syuraij at-Tujaibi al-Fahmi al-Mishri, hanya dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban saja.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/226-227)
Adapun perawi Abu Qabil (namanya adalah Huyai bin Hani al-Mu’afiri) dinyatakan tsiqah oleh lebih dari seorang ulama, imam Ibnu Hibban menyebutkannya dalam kitabnya Ats-Tsiqat dan berkata: Dia juga seorang perawi yang keliru-keliru. Imam As-Saji menyebutkannya dalam kitabnya Adh-Dhu’afa’ (Para perawi yang lemah). Dan diriwayatkan dari Imam Ibnu Ma’in bahwa ia melemahkannya.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/225)
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani juga melemahkan perawi Abu Qabil dalam kitabnya Ta’jilul Manfa’ah.
[3]. Hadits riwayat imam Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil fi adh-Dhu’afa’.
Imam Abu Ya’la berkata: Menceritakan kepada kami perawi Abu Ma’mar Ismail bin Ibrahim, menceritakan kepada kami perawi Abdullah bin Ja’far dari Waqid bin Salamah dari Yazid ar-Raqasyi, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
«مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ»
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at maka ia akan dilindungi dari siksa kubur.” (HR. Abu Ya’la no. 4113 dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil, 7/2554)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Makna hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Anas bin Malik dlam Musnad Abu Ya’la. Namun sanadnya lemah juga, sebagaimana disebutkan oleh (Al-hafizh Nuruddin al-Haitsami) dalam Majma’uz Zawaid dan (Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani) dalam Fathul Bari.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Ahmad Syakir, 6/204)
Syaikh Syua’aib al-Arnauth berkata: “Di dalam sanadnya ada perawi Waqid bin Salamah dan Yazin bin Abban ar-Raqasyi. Keduanya adalah perawi yang lemah.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syu’aib al-Arnauth, 11/149)
Syaikh Husain Salim Asad dalam tahqiqnya atas Musnad Abu Ya’la juga melemahkan sanad hadits ini.
[4]. Hadits riwayat imam Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’.
Dari Umar bin Musa bin Wajih dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
«مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ»
“Barangsiapa meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at niscaya ia akan dijauhkan dari siksa kubur dan pada hari kiamat ia akan datang dengan memiliki tanda orang mati syahid.” (HR. Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, 3/155)
Setelah meriwayatkan hadits ini, imam Abu Nu’aim al-Asbahani mengatakan: “Hadits ini gharib dari hadits Jabir dan Muhammad bin Munkadir. Hanya diriwayatkan oleh Umar bin Musa, dan ia adalah seorang penduduk Madinah, ia adalah perawi yang lemah.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyatul Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, 3/155)
Syaikh Syu’aib al-Arnauth menulis tentang perawi Umar bin Musa bin Wajih: “Imam Abu Hatim berkata: “Ia adalah pemalsu hadits.” Imam An-Nasai dan Ad-Daraquthni berkata: “Ia matruk (tertuduh memalsu hadits).” Imam Ibnu ‘Adi berkata: “Ia termasuk perawi yang memalsukan hadits, matan maupun sanadnya.” (Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Syu’aib al-Arnauth, 11/149)
Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Hadits Jabir diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 3/155-156, dan dalam sanadnya ada kelemahan.”(Musnad Ahmad dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 6/204)
Kedudukan hadits:
Inilah Abdullah bin Amru bin Ash tentang keutamaan meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at. Hadits tersebut secara sanad lemah, dan terdapat dua hadits lainnya yang menunjukkan keutamaan yang sama, yaitu hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu. Secara sanad, kedua hadits tersebut juga lemah, bahkan lebih lemah dari hadits Abdullah bin Amru bin Ash.
Kesimpulan hadits:
1. Hadits tentang keutamaan meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at diriwayatkan dari jalur sahabat Abdullah bin Amru bin Ash, Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhum.
2. Imam Abul ‘Ala’ Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri dalam bukunya Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi menyatakan hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah bisa menguatkan kelemahan hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Sehingga dari keseluruhan jalur sanadnya, hadits tersebut naik derajatnya menjadi hadits hasan atau hadits shahih, yang bisa dipegangi sebagai hujjah untuk menyatakan adanya keutamaan khusus bagi orang yang meninggal padda hari Jum’at atau malam Jum’at.
Pendapat ini diikuti oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam bukunya, Ahkamul Janaiz.
3. Sebagian besar ulama hadits menganggap hadits Anas bin Malik dan Jabir bin Abdullah tidak bisa menguatkan kelemahan hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Sebab kelemahan sanad kedua hadits tersebut justru lebih parah daripada kelemahan sanad hadits Abdullah bin Amru bin Ash. Dengan demikian, ketiga hadits tersebut tetap berderajat dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah untuk menyatakan ada keutamaan khusus bagi bagi orang yang meninggal padda hari Jum’at atau malam Jum’at. Pendapat ini, wallahu a’lam, adalah pendapat yang lebih kuat dan lebih dekat kepada kebenaran.
4. Andaikata kita mengikuti pendapat ulama yang menyatakan hadits tersebut hasan atau shahih sekalipun, maka bukan berarti setiap muslim dan muslimah yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at telah meraih husnul khatimah. Status husnul khatimah lebih kuat berkaitan dengan amal perbuatan orang yang meninggal, daripada dengan tempat dan waktu orang tersebut meninggal.
Misalnya:
a. Seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan kemaksiatan (berzina, mabuk, merampok, meninggalkan shalat, meninggalkan shaum Ramadhan dan lain-lain), maka bisa diyakini ia mati dalam keadaan suul khatimah, meskipun ia meninggal pada malam Jum’at atau hari Jum’at.
b. Seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan ketaatan (melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, membaca Al-Qur’an, menengok orang sakit, memuliakan tamu, berperang di jalan Allah, dan lain-lain), maka bisa diyakini ia mati dalam keadaan husnul khatimah, meskipun ia meninggal pada selain hari Jum’at atau selain malam Jum’at.
c. Jika seorang muslim atau muslimah meninggal dalam keadaan melakukan ketaatan pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka bisa diyakini bahwa ia meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
5. Kematian adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Kematian datang secara tiba-tiba tanpa bisa disangka waktu dan tempatnya. Oleh karenanya sudah seharusnya kita senantiasa mempersiapkan bekal amal shalih sebaik-baiknya untuk menghadap Allah Ta’ala, sebelum kematian datang menjemput kita. Wallahu a’lam bish-shawab.
Halusinasi Penginjil Kedar Ministry, Surganya Hanya di Angan-Angan
PARA PENGINJIL semakin vulgar menyatakan permusuhan terhadap umat Islam. Lembaga penginjilan Kedar Ministry terang-terangan menyatakan bahwa lembaga ini didirikan untuk mengkristenkan umat Islam. Dalam website muslim-murtad###.com dipaparkan misi dan visi sbb:
“Misi kami adalah menjangkau jiwa-jiwa muslim yang tersesat dan membuka mata nuraninya agar mereka tahu bahwa di dalam Islam tidak ada kepastian keselamatan, dan mengabarkan kabar sukacita karena ada Juruselamat yang menjamin 100% keselamatan adalah Tuhan Yesus Kristus/Isa Almasih.”
Dalam artikel “Mengapa Para Mukmin Gelisah Akan Kiamat?” penginjil Kedar Ministry berusaha memurtadkan umat Islam dengan tudingan bahwa dalam Islam tidak ada jaminan keselamatan. Tuduhan ini ditopang dengan asumsi bahwa umat Islam takut menghadapi hari Kiamat.
Untuk memaksakan kesimpulan bahwa dalam Islam tidak ada jaminan keselamatan surgawi, mereka menyandarkan asumsi pada pendapat seseorang yang tidak jelas indentitasnya. Lucunya, pendapat seorang anonim yang diklaim sebagai hajjah dari Malaysia ini dijadikan sebagai asumsi umum seluruh umat Islam:
“Pada umumnya, kita masih bingung apabila memikirkan saat kematian. Ke manakah saudara akan pergi? Sorga atau neraka? Selain biasanya sulit untuk dijawab, pertanyaan ini juga membingungkan… Seorang Hajjah dari Malaysia pernah berkata, “Saya tetap takut dengan kiamat, walau saya rajin berpuasa, saleh, dan hidup sebaik-baiknya. Saya tidak yakin Allah akan menerima saya pada hari akhir.”
Ketakutan seorang anonim itu dijadikan kesimpulan bahwa umat Islam takut terhadap hari Kiamat karena Islam tidak menjamin keselamatan surgawi. Kedar menulis:
“Menurut ajaran agama Islam, karena Allah Mahakuasa, Allah menentukan masalah keselamatan tanpa memberitahu kepada manusia apakah ia akan masuk sorga atau neraka. Sehingga, walaupun seseorang beramal dan saleh, beriman pada Allah dan mengharap pada pengampunan Allah yang "Arrahmaanir rahim," ia masih akan selalu ragu-ragu apakah ia akan selamat sesudah meninggal dunia atau tidak.”
...Semakin penginjil menyerang akidah Islam, yang terungkap justru kejahilan sang penginjil dan kebobrokan agamanya...
Sebuah hadits shahih tak luput dari sasaran kejahatan penginjil Kedar. Sabda Nabi diperalat untuk menuduh umat Islam tidak selamat dari neraka karena hanya karena dosa yang kecil umat Islam tidak akan masuk surga. Kedar menulis:
“Dosa kecil punya arti besar. Salah satu hadits berbunyi, "Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan" (HR Muslim). Ucapan ini sangat berat. Karena ada dosa sekecil apapun dan kenyataan Allah mempunyai kuasa mutlak, para Mukmin ragu-ragu mengenai nasibnya pada hari pembalasan.”
ARGUMEN AKROBATIK, LOGIKA PENGINJIL JUNGKIR BALIK
Itulah argumen akrobatik penginjil untuk memurtadkan umat Islam. Wawasan lemah dan minimnya data dipaksakan untuk menyerang akidah Islam yang mulia dan ilmiah. Semakin penginjil menyerang akidah Islam, yang terungkap justru kejahilan sang penginjil dan kebobrokan agamanya.
Pertama, bohong besar tuduhan penginjil bahwa umat Islam tidak terjamin surga dan keselamatannya di akhirat. Dalam banyak ayat Allah menjamin surga bagi umat Islam sekaligus akan dihindarkan dari api neraka:
“Orang-orang yang beriman (Islam) dan mengerjakan amalan shaleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Qs An-Nisa’ 122; baca juga: Al-Baqarah 82, An-Nisa’ 57, Al-A’raf 42, Yunus 9, Hud 23, Ar-Ra’d 29, Ibrahim 23, Al-Kahfi 107, Maryam 60, Thaha 75, Al-Hajj 14, 23, 56, Al-‘Ankabut 7, 58, Ar-Rum 15, Luqman 8, As-Sajdah 19, Asy-Syura 22, Al-Jatsiyah 30, At-Taghabun 9, At-Thalaq 11, Al-Buruj 11, dll).
Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya juga menggaransi umatnya akan masuk surga dan terbebas dari neraka. Tak heran jika kitab Shahih Muslim jilid I terdapat dua bab khusus: “Keimanan yang Membawa Seseorang Masuk ke dalam Surga" dan bab "Orang yang Menghadap Tuhannya dengan Kebulatan Iman yang Mantap, Akan Dimasukkan dalam Surga dan Dihindarkan dari Api Neraka,”
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh seorang laki-laki, “Tunjukkan kepadaku amalan apa yang dapat memasukkan aku ke dalam surga?” Rasulullah SAW menjawab: "Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, menegakkan shalat, membayar zakat dan menghubungi sanak kerabat.”
“Barangsiapa bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa (yang terjadi dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq (benar) dan neraka haq, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan amalan apa pun yang telah ia perbuat” (HR Bukhari).
Bahkan umat Islam yang hanya memiliki setitik iman pun punya kesempatan masuk surga, meski sempat masuk neraka karena memiliki dosa selama di dunia. Rasulullah SAW bersabda:
“Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, “Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka” (HR Bukhari dan Muslim).
“Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman)” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan Allah SWT bersumpah akan mengeluarkan orang yang mengucapkan syahadatain itu dari neraka.
Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: “Demi Izzah-Ku, demi Jala-Ku, demi Kesombongan-Ku dan demi Keagungan-Ku, Aku pasti keluarkan (dari neraka) orang yang mengucapkan (Laa ilaaha illallah)” (HR Bukhari)
...Bohong besar tuduhan penginjil bahwa umat Islam tidak terjamin keselamatannya di akhirat. Dalam banyak ayat Allah menjamin surga bagi umat Islam sekaligus akan dihindarkan dari api neraka...
Meski sudah dijamin masuk surga, umat Islam tidak boleh takabur dengan memastikan dirinya masuk surga, karena kunci-kunci ilmu ghaib hanya Allah saja yang Maha Tahu (Qs Al-An’am 59). Dalam hadits shahih riwayat Bukhari, Rasulullah SAW merinci lima kunci ilmu ghaib, yaitu: 1) apa yang terjadi esok hari, 2) apa yang dikandung oleh rahim, 3) kapan turun hujan, 4) di bumi mana seseorang akan meninggal, 5) kapan terjadi hari kiamat.
“Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah” (HR Bukhari).
Karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, terutama kematian, kiamat dan surga-neraka, maka dilarang memastikan masuk surga tanpa ucapan “insya Allah” (Qs Al Kahfi 23-24).
Kedua, tudingan bahwa umat Islam ragu-ragu terhadap surga dan keselamatan akhirat, terbantahkan oleh keberanian para mujahidin di medan perang. Dengan gagah berani, mereka bertarung melawan kezaliman para kuffar di medan jihad. Nyawa yang semata wayang mereka pertaruhkan, karena meyakini fadilah syuhada dan surga yang dijanjikan Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga orang yang semuanya dijamin Allah azza wajalla, yaitu: seorang lelaki yang pergi untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Allah mewafatkannya, lalu memasukkannya ke surga dengan segala pahala atau harta rampasan perang yang diperolehnya...” (HR. Abu Daud).
Ketiga, di samping meyakini Islam sebagai satu-satunya agama dan jalan keselamatan surgawi (Qs Ali Imran 19), Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa semua agama di luar Islam tidak diterima Allah (Ali Imran 85).
Umat Kristen disebut sebagai “kafir kitabi” (kafir Ahli Kitab) kafir karena meyakini Yesus sebagai Tuhan doktrin Trinitas (Al-Ma’idah 72-73). Allah memastikan mereka akan menjadi penghuni neraka Jahannam:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al-Bayyinah 6).
Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang mendengar berita kenabianku tetapi dia enggan untuk masuk Islam, maka dia telah memilih tempat tinggalnya di Neraka Jahannam” (HR Muslim).
...Sang penginjil mengakui bahwa surga adalah tempat kesucian di Hadirat Yang Maha Suci. Tapi di sisi lain ia ingin agar surga juga diperuntukkan bagi orang-orang sombong. Ini logika yang tidak waras...
Keempat, sang penginjil merasa janggal terhadap ajaran Islam bahwa orang yang sombong tidak akan masuk surga. Pernyataan ini kontradiktif dengan pernyataan sang penginjil di awal tulisannya:
“Pada akhir riwayat dunia ini nanti, tak seorang pun di antara umat manusia bersedia masuk ke dalam tempat penyiksaan yang dinamakan neraka. Tak terkecuali, setiap kita pasti ingin menikmati kebahagiaan yang kekal di surga, tempat kesucian di Hadirat Yang Mahasuci.”
Sang penginjil sudah mengakui bahwa surga adalah tempat kesucian di Hadirat Yang Maha Suci. Tapi di sisi lain ia ingin agar surga juga diperuntukkan bagi orang-orang sombong. Jelas ini logika jungkir balik yang tidak waras.
MENGIMANI KETUHANAN YESUS BIKIN CELAKA
Setelah menuding ketidakselamatan umat Islam di akhirat, penginjil Khedar Ministry mengumbar klaim bahwa umat Kristen pasti masuk surga setelah mati. Ia mengimbau umat Islam agar menerima Yesus sebagai juruselamat penebus dosa supaya selamat di akhirat:
“Janji keselamatan yang diberikan oleh Isa Al-Masih tidak dapat dibeli dengan amal dan ibadah. Keselamatan merupakan anugerah dan pemberian cuma-cuma dari Allah… Keselamatan adalah pemberian terindah. Datanglah kepada Isa Al-Masih untuk menerima keselamatan yang sudah disediakan. Keselamatan yang hanya akan diterima oleh mereka yang bersedia menyambut anugerah terbesar. Akhirnya tuhan Yesus memberkati kita semua nya.”
Klaim orang Kristen (maupun Yahudi) bahwa hanya mereka yang masuk surga, bukan fenomena baru bagi umat Islam. Allah menegaskan bahwa itu adalah halusinasi alias angan-angan kosong belaka. Al-Qur'an sudah mensinyalir dua puluh abad yang lalu:
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani." Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, "Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar" (Qs Al-Baqarah 111; baca juga: Al-Baqarah 135, Al-Ma’idah 18).
...Jaminan iman kepada Yesus sebagai Tuhan telah terbukti meleset. Jangan pertaruhkan iman dengan surga palsu yang ditawarkan penginjil...
Mari kita uji iman kepada ketuhanan Yesus dengan parameter Alkitab (Bibel). Injil Markus menjelaskan bahwa tanda orang yang beriman kepada Yesus adalah tidak akan celaka bila memegang ular berbisa yang mematikan dan dapat meminum racun mematikan.
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya, ....mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Markus 16:17-18)
Dengan kata lain: bila orang Kristen tidak mengalami celaka sedikitpun, setelah memegang ular berbisa atau meminum racun, maka keimanan orang Kristen sudah benar sesuai standar ajaran Yesus.
Siapa yang berani membuktikan kebenaran iman sesuai ayat ini? Sepanjang sejarah Paus di Vatikan belum pernah membuktikannya. Satu-satunya orang Kristen yang berani membuktikan ayat ini adalah Pendeta Mark Randall “Mack” Wolford, dari gereja House of the Lord Jesus di Matoaka, Virginia Barat, Amerika Serikat.
Ternyata jaminan iman kepada ketuhanan Yesus tidak terbukti. Sang pendeta mati tragis saat testing iman dalam kebaktian di gereja pada Minggu (27/5/2012). Sebuah gigitan ular berbisa di pahanya yang mengantarkan pada kematian, menggugurkan jaminan Yesus dalam Bibel.
Jaminan iman kepada Yesus sebagai Tuhan telah terbukti meleset. Jangan pertaruhkan iman dengan surga palsu yang ditawarkan penginjil! Sekali salah pilih, maka penyesalan di neraka Jahannam tidak ada gunanya!!
“Misi kami adalah menjangkau jiwa-jiwa muslim yang tersesat dan membuka mata nuraninya agar mereka tahu bahwa di dalam Islam tidak ada kepastian keselamatan, dan mengabarkan kabar sukacita karena ada Juruselamat yang menjamin 100% keselamatan adalah Tuhan Yesus Kristus/Isa Almasih.”
Dalam artikel “Mengapa Para Mukmin Gelisah Akan Kiamat?” penginjil Kedar Ministry berusaha memurtadkan umat Islam dengan tudingan bahwa dalam Islam tidak ada jaminan keselamatan. Tuduhan ini ditopang dengan asumsi bahwa umat Islam takut menghadapi hari Kiamat.
Untuk memaksakan kesimpulan bahwa dalam Islam tidak ada jaminan keselamatan surgawi, mereka menyandarkan asumsi pada pendapat seseorang yang tidak jelas indentitasnya. Lucunya, pendapat seorang anonim yang diklaim sebagai hajjah dari Malaysia ini dijadikan sebagai asumsi umum seluruh umat Islam:
“Pada umumnya, kita masih bingung apabila memikirkan saat kematian. Ke manakah saudara akan pergi? Sorga atau neraka? Selain biasanya sulit untuk dijawab, pertanyaan ini juga membingungkan… Seorang Hajjah dari Malaysia pernah berkata, “Saya tetap takut dengan kiamat, walau saya rajin berpuasa, saleh, dan hidup sebaik-baiknya. Saya tidak yakin Allah akan menerima saya pada hari akhir.”
Ketakutan seorang anonim itu dijadikan kesimpulan bahwa umat Islam takut terhadap hari Kiamat karena Islam tidak menjamin keselamatan surgawi. Kedar menulis:
“Menurut ajaran agama Islam, karena Allah Mahakuasa, Allah menentukan masalah keselamatan tanpa memberitahu kepada manusia apakah ia akan masuk sorga atau neraka. Sehingga, walaupun seseorang beramal dan saleh, beriman pada Allah dan mengharap pada pengampunan Allah yang "Arrahmaanir rahim," ia masih akan selalu ragu-ragu apakah ia akan selamat sesudah meninggal dunia atau tidak.”
...Semakin penginjil menyerang akidah Islam, yang terungkap justru kejahilan sang penginjil dan kebobrokan agamanya...
Sebuah hadits shahih tak luput dari sasaran kejahatan penginjil Kedar. Sabda Nabi diperalat untuk menuduh umat Islam tidak selamat dari neraka karena hanya karena dosa yang kecil umat Islam tidak akan masuk surga. Kedar menulis:
“Dosa kecil punya arti besar. Salah satu hadits berbunyi, "Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan" (HR Muslim). Ucapan ini sangat berat. Karena ada dosa sekecil apapun dan kenyataan Allah mempunyai kuasa mutlak, para Mukmin ragu-ragu mengenai nasibnya pada hari pembalasan.”
ARGUMEN AKROBATIK, LOGIKA PENGINJIL JUNGKIR BALIK
Itulah argumen akrobatik penginjil untuk memurtadkan umat Islam. Wawasan lemah dan minimnya data dipaksakan untuk menyerang akidah Islam yang mulia dan ilmiah. Semakin penginjil menyerang akidah Islam, yang terungkap justru kejahilan sang penginjil dan kebobrokan agamanya.
Pertama, bohong besar tuduhan penginjil bahwa umat Islam tidak terjamin surga dan keselamatannya di akhirat. Dalam banyak ayat Allah menjamin surga bagi umat Islam sekaligus akan dihindarkan dari api neraka:
“Orang-orang yang beriman (Islam) dan mengerjakan amalan shaleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (Qs An-Nisa’ 122; baca juga: Al-Baqarah 82, An-Nisa’ 57, Al-A’raf 42, Yunus 9, Hud 23, Ar-Ra’d 29, Ibrahim 23, Al-Kahfi 107, Maryam 60, Thaha 75, Al-Hajj 14, 23, 56, Al-‘Ankabut 7, 58, Ar-Rum 15, Luqman 8, As-Sajdah 19, Asy-Syura 22, Al-Jatsiyah 30, At-Taghabun 9, At-Thalaq 11, Al-Buruj 11, dll).
Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya juga menggaransi umatnya akan masuk surga dan terbebas dari neraka. Tak heran jika kitab Shahih Muslim jilid I terdapat dua bab khusus: “Keimanan yang Membawa Seseorang Masuk ke dalam Surga" dan bab "Orang yang Menghadap Tuhannya dengan Kebulatan Iman yang Mantap, Akan Dimasukkan dalam Surga dan Dihindarkan dari Api Neraka,”
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh seorang laki-laki, “Tunjukkan kepadaku amalan apa yang dapat memasukkan aku ke dalam surga?” Rasulullah SAW menjawab: "Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, menegakkan shalat, membayar zakat dan menghubungi sanak kerabat.”
“Barangsiapa bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa (yang terjadi dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq (benar) dan neraka haq, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan amalan apa pun yang telah ia perbuat” (HR Bukhari).
Bahkan umat Islam yang hanya memiliki setitik iman pun punya kesempatan masuk surga, meski sempat masuk neraka karena memiliki dosa selama di dunia. Rasulullah SAW bersabda:
“Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, “Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka” (HR Bukhari dan Muslim).
“Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman)” (HR Bukhari dan Muslim).
Bahkan Allah SWT bersumpah akan mengeluarkan orang yang mengucapkan syahadatain itu dari neraka.
Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: “Demi Izzah-Ku, demi Jala-Ku, demi Kesombongan-Ku dan demi Keagungan-Ku, Aku pasti keluarkan (dari neraka) orang yang mengucapkan (Laa ilaaha illallah)” (HR Bukhari)
...Bohong besar tuduhan penginjil bahwa umat Islam tidak terjamin keselamatannya di akhirat. Dalam banyak ayat Allah menjamin surga bagi umat Islam sekaligus akan dihindarkan dari api neraka...
Meski sudah dijamin masuk surga, umat Islam tidak boleh takabur dengan memastikan dirinya masuk surga, karena kunci-kunci ilmu ghaib hanya Allah saja yang Maha Tahu (Qs Al-An’am 59). Dalam hadits shahih riwayat Bukhari, Rasulullah SAW merinci lima kunci ilmu ghaib, yaitu: 1) apa yang terjadi esok hari, 2) apa yang dikandung oleh rahim, 3) kapan turun hujan, 4) di bumi mana seseorang akan meninggal, 5) kapan terjadi hari kiamat.
“Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah” (HR Bukhari).
Karena tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, terutama kematian, kiamat dan surga-neraka, maka dilarang memastikan masuk surga tanpa ucapan “insya Allah” (Qs Al Kahfi 23-24).
Kedua, tudingan bahwa umat Islam ragu-ragu terhadap surga dan keselamatan akhirat, terbantahkan oleh keberanian para mujahidin di medan perang. Dengan gagah berani, mereka bertarung melawan kezaliman para kuffar di medan jihad. Nyawa yang semata wayang mereka pertaruhkan, karena meyakini fadilah syuhada dan surga yang dijanjikan Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga orang yang semuanya dijamin Allah azza wajalla, yaitu: seorang lelaki yang pergi untuk berperang di jalan Allah, maka ia dijamin oleh Allah hingga Allah mewafatkannya, lalu memasukkannya ke surga dengan segala pahala atau harta rampasan perang yang diperolehnya...” (HR. Abu Daud).
Ketiga, di samping meyakini Islam sebagai satu-satunya agama dan jalan keselamatan surgawi (Qs Ali Imran 19), Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa semua agama di luar Islam tidak diterima Allah (Ali Imran 85).
Umat Kristen disebut sebagai “kafir kitabi” (kafir Ahli Kitab) kafir karena meyakini Yesus sebagai Tuhan doktrin Trinitas (Al-Ma’idah 72-73). Allah memastikan mereka akan menjadi penghuni neraka Jahannam:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al-Bayyinah 6).
Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang mendengar berita kenabianku tetapi dia enggan untuk masuk Islam, maka dia telah memilih tempat tinggalnya di Neraka Jahannam” (HR Muslim).
...Sang penginjil mengakui bahwa surga adalah tempat kesucian di Hadirat Yang Maha Suci. Tapi di sisi lain ia ingin agar surga juga diperuntukkan bagi orang-orang sombong. Ini logika yang tidak waras...
Keempat, sang penginjil merasa janggal terhadap ajaran Islam bahwa orang yang sombong tidak akan masuk surga. Pernyataan ini kontradiktif dengan pernyataan sang penginjil di awal tulisannya:
“Pada akhir riwayat dunia ini nanti, tak seorang pun di antara umat manusia bersedia masuk ke dalam tempat penyiksaan yang dinamakan neraka. Tak terkecuali, setiap kita pasti ingin menikmati kebahagiaan yang kekal di surga, tempat kesucian di Hadirat Yang Mahasuci.”
Sang penginjil sudah mengakui bahwa surga adalah tempat kesucian di Hadirat Yang Maha Suci. Tapi di sisi lain ia ingin agar surga juga diperuntukkan bagi orang-orang sombong. Jelas ini logika jungkir balik yang tidak waras.
MENGIMANI KETUHANAN YESUS BIKIN CELAKA
Setelah menuding ketidakselamatan umat Islam di akhirat, penginjil Khedar Ministry mengumbar klaim bahwa umat Kristen pasti masuk surga setelah mati. Ia mengimbau umat Islam agar menerima Yesus sebagai juruselamat penebus dosa supaya selamat di akhirat:
“Janji keselamatan yang diberikan oleh Isa Al-Masih tidak dapat dibeli dengan amal dan ibadah. Keselamatan merupakan anugerah dan pemberian cuma-cuma dari Allah… Keselamatan adalah pemberian terindah. Datanglah kepada Isa Al-Masih untuk menerima keselamatan yang sudah disediakan. Keselamatan yang hanya akan diterima oleh mereka yang bersedia menyambut anugerah terbesar. Akhirnya tuhan Yesus memberkati kita semua nya.”
Klaim orang Kristen (maupun Yahudi) bahwa hanya mereka yang masuk surga, bukan fenomena baru bagi umat Islam. Allah menegaskan bahwa itu adalah halusinasi alias angan-angan kosong belaka. Al-Qur'an sudah mensinyalir dua puluh abad yang lalu:
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani." Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, "Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar" (Qs Al-Baqarah 111; baca juga: Al-Baqarah 135, Al-Ma’idah 18).
...Jaminan iman kepada Yesus sebagai Tuhan telah terbukti meleset. Jangan pertaruhkan iman dengan surga palsu yang ditawarkan penginjil...
Mari kita uji iman kepada ketuhanan Yesus dengan parameter Alkitab (Bibel). Injil Markus menjelaskan bahwa tanda orang yang beriman kepada Yesus adalah tidak akan celaka bila memegang ular berbisa yang mematikan dan dapat meminum racun mematikan.
“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya, ....mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh” (Markus 16:17-18)
Dengan kata lain: bila orang Kristen tidak mengalami celaka sedikitpun, setelah memegang ular berbisa atau meminum racun, maka keimanan orang Kristen sudah benar sesuai standar ajaran Yesus.
Siapa yang berani membuktikan kebenaran iman sesuai ayat ini? Sepanjang sejarah Paus di Vatikan belum pernah membuktikannya. Satu-satunya orang Kristen yang berani membuktikan ayat ini adalah Pendeta Mark Randall “Mack” Wolford, dari gereja House of the Lord Jesus di Matoaka, Virginia Barat, Amerika Serikat.
Ternyata jaminan iman kepada ketuhanan Yesus tidak terbukti. Sang pendeta mati tragis saat testing iman dalam kebaktian di gereja pada Minggu (27/5/2012). Sebuah gigitan ular berbisa di pahanya yang mengantarkan pada kematian, menggugurkan jaminan Yesus dalam Bibel.
Jaminan iman kepada Yesus sebagai Tuhan telah terbukti meleset. Jangan pertaruhkan iman dengan surga palsu yang ditawarkan penginjil! Sekali salah pilih, maka penyesalan di neraka Jahannam tidak ada gunanya!!
Tuesday, 16 April 2013
Skenario Fungsikan Densus, Daerah Konflik Dikaitkan dengan Terorisme
Drs. H. Slamet Effendy Yusuf, M.Si. menduga ada skenario untuk memfungsikan Densus 88 dengan menjadikan wilayah dimana sebelumnya terjadi konflik yang melibatkan umat Islam seperti Poso untuk dikaitkan dengan kasus terorisme.
Ia juga menyoroti, bahwa Densus 88 dibuat sejak bom Bali I dimana angka 88 diambil dari banyaknya korban warga Australia pada waktu itu.
“Di Indonesia sejak peristiwa bom Bali I dibentuk Den 88, yang Den 88 itu dari namanya kita sudah melihat, bahwa konon angka 88 itu bersumber dari banyaknya korban orang Australia. Kemudian Den 88 memperoleh pelatihan dari Amerika dan Australia,” kata Slamet Effendy Yusuf saat menjadi pembicara Diskusi Publik soal terorisme di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013).
...bahwa konon angka 88 itu bersumber dari banyaknya korban orang Australia. Kemudian Den 88 memperoleh pelatihan dari Amerika dan Australia
Tempat-tempat yang sebelumnya pernah terjadi konflik SARA antara Islam-Kristen seperti di Poso maupun Ambon kerap dikaitkan dengan terorisme. Hal ini menurut Slamet, seolah untuk memfungsikan adanya Densus 88 sebagai Satgas Anti Teror.
“Ada penganggapan pusat-pusat konflik yang melibatkan umat Islam itu juga dikatakan sebagai peristiwa yang ada kaitannya dengan terorisme. Seperti pak Adnan katakan tadi, kita semua tahu apa yang terjadi di Poso dan sekitarnya, sampai daerah Tentena,” jelasnya.
Seperti pernyataan Komnas HAM beberapa waktu lalu, seharusnya daerah yang pernah terjadi konflik tak bisa dikaitkan dengan terorisme dan harus dipandang sebagai konflik, sebab kedua pihak antara Islam dan Kristen pada waktu itu sama-sama bisa membuat bom dan menguasai senjata api. Namun, anehnya hanya pihak Islam saja yang dituding terlibat kasus terorisme.
...pusat-pusat konflik yang melibatkan umat Islam itu juga dikatakan sebagai peristiwa yang ada kaitannya dengan terorisme.
Saat menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar pun Slamet Effendy Yusuf pernah mempertanyakan mengapa hal itu terjadi.
“Waktu saya di Komisi I juga sudah saya tanyakan kenapa tiba-tiba teman-teman Muslim di Tentena atau yang sudah lari ke selatan Poso yang lain sebagainya, kenapa dijuluki sebagai kekuatan teroris?” tanyanya.
...kenapa tiba-tiba teman-teman Muslim di Tentena atau yang sudah lari ke selatan Poso yang lain sebagainya, kenapa dijuluki sebagai kekuatan teroris?
Ia menambahkan, adanya akar terorisme itu bukan tanpa sebab, menurutnya operasi Densus 88 yang dipublikasikan secara vulgar di televisi, seperti penyergapan di Temanggung maupun Solo beberapa tahun silam menjadi pemicu dendam.
“Sehingga saudara-saudara sekalian yang sekarang disebut teroris itu dengan (menyasar, red.) obyek-obyek kepolisian bukan lagi obyek orang asing hampir bisa dipastikan itu adalah karena dendam. Oleh karena menurut saya, terlalu vulgarnya yang disebut dengan Densus 88 itu mempublikasikan operasi-operasinya sedemikian rupa,” jelasnya.
Untuk itu, solusinya menurut Slamet adalah menghilangkan akar dendam itu di tengah masyarakat. “Terorisme bisa dihilangkan dengan meng-clear-kan seluruh persoalan-persoalan yang kemudian menjadi dendam di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti, bahwa Densus 88 dibuat sejak bom Bali I dimana angka 88 diambil dari banyaknya korban warga Australia pada waktu itu.
“Di Indonesia sejak peristiwa bom Bali I dibentuk Den 88, yang Den 88 itu dari namanya kita sudah melihat, bahwa konon angka 88 itu bersumber dari banyaknya korban orang Australia. Kemudian Den 88 memperoleh pelatihan dari Amerika dan Australia,” kata Slamet Effendy Yusuf saat menjadi pembicara Diskusi Publik soal terorisme di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013).
...bahwa konon angka 88 itu bersumber dari banyaknya korban orang Australia. Kemudian Den 88 memperoleh pelatihan dari Amerika dan Australia
Tempat-tempat yang sebelumnya pernah terjadi konflik SARA antara Islam-Kristen seperti di Poso maupun Ambon kerap dikaitkan dengan terorisme. Hal ini menurut Slamet, seolah untuk memfungsikan adanya Densus 88 sebagai Satgas Anti Teror.
“Ada penganggapan pusat-pusat konflik yang melibatkan umat Islam itu juga dikatakan sebagai peristiwa yang ada kaitannya dengan terorisme. Seperti pak Adnan katakan tadi, kita semua tahu apa yang terjadi di Poso dan sekitarnya, sampai daerah Tentena,” jelasnya.
Seperti pernyataan Komnas HAM beberapa waktu lalu, seharusnya daerah yang pernah terjadi konflik tak bisa dikaitkan dengan terorisme dan harus dipandang sebagai konflik, sebab kedua pihak antara Islam dan Kristen pada waktu itu sama-sama bisa membuat bom dan menguasai senjata api. Namun, anehnya hanya pihak Islam saja yang dituding terlibat kasus terorisme.
...pusat-pusat konflik yang melibatkan umat Islam itu juga dikatakan sebagai peristiwa yang ada kaitannya dengan terorisme.
Saat menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar pun Slamet Effendy Yusuf pernah mempertanyakan mengapa hal itu terjadi.
“Waktu saya di Komisi I juga sudah saya tanyakan kenapa tiba-tiba teman-teman Muslim di Tentena atau yang sudah lari ke selatan Poso yang lain sebagainya, kenapa dijuluki sebagai kekuatan teroris?” tanyanya.
...kenapa tiba-tiba teman-teman Muslim di Tentena atau yang sudah lari ke selatan Poso yang lain sebagainya, kenapa dijuluki sebagai kekuatan teroris?
Ia menambahkan, adanya akar terorisme itu bukan tanpa sebab, menurutnya operasi Densus 88 yang dipublikasikan secara vulgar di televisi, seperti penyergapan di Temanggung maupun Solo beberapa tahun silam menjadi pemicu dendam.
“Sehingga saudara-saudara sekalian yang sekarang disebut teroris itu dengan (menyasar, red.) obyek-obyek kepolisian bukan lagi obyek orang asing hampir bisa dipastikan itu adalah karena dendam. Oleh karena menurut saya, terlalu vulgarnya yang disebut dengan Densus 88 itu mempublikasikan operasi-operasinya sedemikian rupa,” jelasnya.
Untuk itu, solusinya menurut Slamet adalah menghilangkan akar dendam itu di tengah masyarakat. “Terorisme bisa dihilangkan dengan meng-clear-kan seluruh persoalan-persoalan yang kemudian menjadi dendam di tengah masyarakat,” ujarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)